Layani Pemulasaraan 24 Jam, Demi Khidmat pada Umat

SF-UPDATES,-- Drrr.. Drr.. Drr.. Telepon genggam milik Aan Setiawan itu terus berdering. Malam semakin larut, jika tak bisa dikatakan pagi buta. Pukul 1 dini hari. Terkantuk-kantuk, sang istri membangunkannya yang tengah tertidur pulas. Pria yang karib disapa Ipin itu baru saja pulang dari dinasnya di luar kota pukul 22.00 lalu. Baru dua jam saja ia tidur, bunyi telepon sudah bersahut-sahutan.

“Bangun, panggilan itu tampaknya mendesak,” kata istrinya, lembut menepuk bahu Ipin.

Benar saja, kala Ipin memeriksa ponselnya, ia mendapati 42 panggilan tak terjawab. Dalam pesan singkat, ia diminta mengantarkan jenazah salah seorang anak pengidap kanker ke rumah duka di kampung halaman pasien tersebut, Kabupaten Bandar Jaya, Lampung Tengah. Berbekal istirahat singkat itu, Ipin bergegas memacu ambulans menuju RS dimana anak bernama Bastiar itu dirawat.

Nyala sirine ambulans meraung-raung, membelah kesunyian kota Bandung yang tengah terlelap. Pagi buta itu, Ipin langsung bergerak menuju Lampung Tengah. Memerlukan waktu 12 jam melintasi pulau Jawa-Sumatera, sampai ia benar-benar tiba di tujuan. Matanya berkerut, berusaha berkonsentrasi. Lawan kantuk tak masalah. Nun jauh di sana, ada keluarga tengah menanti saat terakhir bertemu almarhum.

Kali lain, pada 2015, ia pernah sendirian saja memulasarakan seorang bayi dhuafa. Prosesi memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga pemakaman di Firdaus Memorial Park (FMP) ia lakoni. Saat itu, anggota tim pemulasaraan lainnya tengah absen. Hingga seorang diri, ia juga membimbing keluarga jenazah untuk belajar pemulasaraan.

Itu baru Ipin. Kisah lainnya diperankan Rifki, yang menempuh perjalanan berjam-jam ke bandara, menjemput jenazah seorang wanita yang bertahun-tahun bekerja di Malaysia. Tak diketahui bagaimana rimbanya oleh pihak keluarga, almarhum bernama Nenden itu diketahui meninggal setelah 10 tahun tak bersua.

Sebab kematian pun tak jelas. Kabar yang didapatkan keluarga, jenazah meninggal karena jantung Nenden kekurangan darah. Namun, usai menjalani otopsi, meninggalnya tenaga kerja wanita ini kian simpang siur. Semangat FMP menolong keluarga Nenden itu tak surut. Rifki membantu pemulasaraan, juga pengantaran jenazah menuju keharibaan terakhirnya di sebuah pemakaman keluarga di Baleendah.

Kisah-kisah itu mewarnai hari-hari tim pemulasaraan FMP. Tim yang membutuhkan kerja gesit, dan siap siaga dalam setiap kondisi. Tentu memerlukan keikhlasan, karena tim pemulasaraan menolong umat 24 jam secara cuma-cuma. Sigap melayani, baik dhuafa, wakif, maupun masyarakat umum yang memerlukan jasa ambulans tim pemulasaraan.

CEO Sinergi Foundation, Ima Rachmalia berkisah bahwa tim pemulasaraan telah ada sejak FMP berdiri. Tenaga-tenaga terlatih dan professional dalam kepengurusan jenazah disiapkan, demi mendukung dan menyempurnakan sistem yang dibangun FMP. Dalam perjalanannya, pelbagai pihak menunjukan apresiasi positif dan dukungannya. Hingga pada Mei 2013, seorang yang peduli mewakafkan sebuah mobil jenazah. Jadilah, pekerjaan tim pemulasaraan semakin dimudahkan, kian mantap terjun ke tengah masyarakat yang membutuhkan.

Ima mengemukakan, pemulasaraan tak hanya berbicara mengenai pengantaran jenazah saja. Jika keluarga memerlukan pendampingan, tim ini akan membantu dan mengedukasi terkait adab memandikan, mengkafani, dan menyolatkan. Tim pemulasaraan juga akan mendorong keluarga terlibat melakukan prosesi tersebut.

“Karena sekaligus menjadi momen terakhir bagi keluarga terhadap jenazah,” tuturnya.

Sebab itu, dengan tanggung jawab mengedukasi keluarga jenazah, Ima mengatakan FMP bisa mengeluarkan 2-5 orang anggota tim dalam satu kali pemulasaraan. Jika keluarga belum memahami adab pemulasaraan, sesedikit apapun tim yang datang harus bisa membimbing, sekaligus membantu prosesinya.

Kini, menginjak tahun ketiganya, orang-orang yang menjadi tim pemulasaraan FMP dipersiapkan lebih banyak. Pun, dalam hal ini, para penerima Beasiswa Pegiat Dakwah (BPD) turut turun menjadi relawan yang membantu kepengurusan jenazah. Pendalaman agama, juga pelatihan mengurus jenazah secara syar’i, digiatkan bagi para pelaku yang terlibat dalam tim ini.

Menurut Ipin sendiri, setiap umat Islam perlu mempelajari pemulasaraan jenazah. Seiring dengan perkembangan zaman, ia melihat umat kurang meminati ilmu tentang janaiz ini. Padahal, mereka tak bisa lantas angkat tangan jika ada anggota keluarganya yang meninggal. Semua orang perlu mempelajarinya.

Ipin melihat, memberikan edukasi terkait pemulasaraan sangat penting. Kendati pelaksanaannya berhukum fardhu kifayah, ia menjadikan ilmu yang didapat sebagai ladang pahala. Ipin bisa berbagi dan membimbing masyarakat yang masih awam mengurus jenazah. Inillah yang menjadi motivasinya agar terus bersemangat menolong umat. Baginya, ini adalah ruang agar lebih bermanfaat pada sesama.

Ipin pun menegaskan para anggota tim pemulasaraan adalah pelayan umat. Sebanyak apapun rintangannya, entah rasa takut, pemanggilan tim di waktu yang tidak wajar, atau soal kemahiran mengemudikan mobil jenazah, tim pemulasaraan harus siap saat masyarakat membutuhkan bantuan mereka.

“Doakan saya, agar terus ikhlas menjalaninya,” tandasnya. [agh]